Home New here? Sign Up | Log out

Wednesday, August 28, 2013

Ketika Hasan Basri Muda Jatuh Cinta

Wednesday, August 28, 2013
Bicara tentang cinta tak kan ada habisnya. Karena memang sudah fitrahnya manusia dibekali oleh hati, hati yang dapat merasa. Ya, begitulah. Bahkan manusia pertama, Nabi Adam dan Hawa pun dulu juga telah memiliki rasa cinta bukan?

Di pagi hari ini, aku mendapatkan suatu hikmah dari buku "Bukan Sekedar Cerita" Suatu buku yang berisi tentang cerita-cerita hikmah baik berasal dari zaman Rasul maupun para pendahulu dan juga zaman sesudahnya. Aku buka daftar isinya, sejenak aku tertegun pada suatu judul "Ketika Hasan Basri Jatuh Cinta". Ya, judul itulah yang menarik perhatianku untuk membacanya untuk pertama kali dibanding kisah yang lain.
----------------------------------------------------

Hasan Basri muda adalah pemuda yang rupawan dan manis. Ia selalu berpakaian serba bagus dan tidak jarang jalan-jalan mengelilingi kota Basrah. Ia senang tinggal di kota itu.

Suatu saat, ketika ia berjalan-jalan, dia melihat seorang wanita cantik jelita. Hatinya terpikat kepada wanita tersebut. Lalu dibuntutinya wanita itu. Merasa diikuti, wanita tersebut menoleh kepada Hasan Basri dan berbicara, "Tidak malukah Anda?"

Hasan Basri menjawab, "Kepada siapa saya harus malu?"

Wanita itu menjawab, "Tentu saja malu pada Allah, yang mengetahui kelakuan mata dan hati."

Kata-kata wanita itu justru membuat Hasan Basri penasaran. Sempat terjadi pergolakan, tetapi kecantikan dan pesona wanita itu seolah membetot sukmanya, terutama dua matanya yang jeli memikatJiwa mudanya membuatnya ingin mengikutinya lagi. Wanita itu bertanya, "Mengapa kamu mengikutiku terus?"

"Aku tergoda oleh kedua matamu."

"Aku akan memenuhi apa yang kamu inginkan." Kata wanita itu menjawab. Karena merasa cintanya tersambut oleh sang wanita, Hasan sangat gembira.

Tiba-tiba munculkan wanita pelayan menemui Hasan Basri dan bilang bahwa majikannya sakit keras dan berpesan bahwa, "Aku tidak menginginkan kedua bola mata yang menjadikan orang terfitnah. Jika Allah mengizinkan pasti akan kuberikan kedua biji mata ini kepadamu." (Sumber lain, ex: Kitab Duratun Nasihin,  menjelaskan bahwa selain menyampaikan pesan itu, wanita pelayan itu juga memberikan kedua bola mata sang wanita yang dicintai Hasan)

Mengetahui hal ini Hasan sangat gelisah dan mencela dirinya sendiri, "Sungguh celaka aku, sudah berjenggot tapi rasa maluku kalah dengan seorang wanita." Semalaman ia menangis, menyesali dengan apa yang telah dia lakukan.

Keesokan harinya, Hasan Basri menuju rumah sang wanita untuk meminta maaf dan meminta kehalalan dari wanita tersebut. Namun saat tiba di rumahnya, rumahnya tertutup dan terdengar suara tangisan dari dalamnya. Lalu sang tetangga mengatakan bahwa pemilik rumah tersebut, yang tak lain adalah wanita yang dicintai Hasan, telah meninggal dunia. Hasan Basri sangat menyesal, dia makin tenggelam dalam kesedihan. Tiga hari lamanya ia tak keluar rumah, waktunya dia habiskan untuk menyesal dan bertaubat pada Allah atas kesalahan dan kelalainnya dalam urusan cinta.

Dan di hari ketiga, Hasan Basri bermimpi melihat wanita duduk di surga. Wanita yang tampak di mimpinya tak lain adalah wanita tersebut.

Hasan Basri berkata, "Berikan aku maaf atas apa yang aku lakukan!"

Wanita itu berkata, "Aku telah memaafkanmu, karena aku telah memperoleh banyak kebaikan dari Allah dengan sebab dirimu."

Hasan berkata lagi, "Berilah aku nasihat!"

Wanita itu berkata, "Ketika engkau dalam kesendirian, berdzikirlah pada Allah. Kerika engkau berada di pagi dan sore hari, beristighfarlah dan bertaubatlah pada Allah!"

Lalu Hasan Basri terbangun. Dan nasehat wanita dalam mimpi tersebut menjadi renungannya. Lalu ia bersungguh-sunggu mempelajari ilmu agama, dan akhirnya jadilah ia ulama besar yang namanya tetap dikenang hingga saat ini..

----------------------------------------------------------------
Itulah cerita hikmah dari ulama besar Hasan al Basri. Dari cerita ini kita mendapat banyak pelajaran. Manajemen cinta. Di mana cinta harus kita kontrol saat belum ada status halal. Bukan kita dilarang untuk mencintai lawan jenis, tapi posisikan dirimu sebagai hamba yang memiliki Tuhan. Menikah adalah cara untuk mencapai kehalalan tersebut. Jika belum siap, maka berpuasalah. Seperti itulah yang diajarkan nabi pada salah satu hadist..  Di samping itu, satu hal yang dapat dijadikan pelajaran dari cerita tersebut adalah bahwa Allah Maha Penerima Taubat. Tak peduli seburuk apa engkau di masa lalu, masih ada masa depan yang masih menjadi impian dan harapanmu. Saya bukanlah orang yang paling sempurna sehingga saya menasehati anda, tapi saya hanya belajar dan akan terus belajar, dan saya hanya memberikan sedikit ilmu agar kita sama-sama saling ditunjukkan sabila haq, jalan kebenaran..

5 comments:

Agil Noviar said...

Untuk yang ingin tahu lebih jauh siapa Hasan al Bashri

http://kisahmuslim.com/kisah-tabiin-hasan-al-bashri/

Anonymous said...

joss gandos...wes bro rasah galau fokus pengembangan diri n menyibukkan diri dengan hal-hal manfaat..nek koe galau akeh hak2mu sing terbengkalai,senyum neng koncomu,sinau,dolan,ibadah e lan liyan2 e..ngko nek wes do sukses nek mung masalahngono2 kui gampang,langsung dadi..okee,smngatt braderr

Agil Noviar said...

Terimakasih brother.. (y)

Adhe Marlin Sanyoto said...

iki anonymous sopo ya? hehe.. koyoe aku ngerti deh..
nice post gil, lanjutkan!

Agil Noviar said...

terimakasih adhe :)

Post a Comment